Kapolresta Pulau Ambon Hadiri Kegiatan Simulasi Simulasi Mekanisme Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor

Kapolresta Pulau Ambon Hadiri Kegiatan Simulasi Simulasi Mekanisme Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor

Puluhan warga Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon ikut simulasi mekanisme tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon

Polresta P.Ambon & P.P Lease - Puluhan warga Batu Merah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon ikut simulasi mekanisme tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, Senin (19/9)

Pemerintah Kota Ambon dalam hal ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menggelar simulasi mekanisme tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor yang berlangsung lapangan futsal Asmil Batu Merah

Yang dihaduri langsung oleh Penjabat Walikota Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, Sekretaris Kota Ambon Agus Ririmasse, Kapolresta P.P Ambon dan Lease, Dandim 1504, Kejaksaan Negeri dan juga OPD terkait.

WaliKota Ambon Bodewin Wattimena dalam sambutannya mengatakan, daerah ini rawan terhadap bencana.

Hal ini disebabkan karena Kota Ambon, termasuk pada wilayah Kepulauan Maluku yang berada pada area pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yang di Indo Australia, Euroasia dan Pasifik.

Pertemuan ketiga lempeng ini bukan saja membentuk zona tumbukan dan subduksi yang dapat menjadi sumber gempa lokal tetapi juga sumber gempa lain yang berasal dari Laut Banda dan Samudra Pasifik atau disebut gempa tektonik.

“Ini yang sangat mempengaruhi formasi batuan di Maluku, karakteristik besar atau patahan serta aktivitas gempa bumi,” jelasnya

Selain itu, kondisi topografi Kota Ambon sebagian besar terdiri dari kawasan perbukitan dan berlereng terjal dengan kemiringan lerengnya lebih dari 20 persen serta kondisi curah hujan dari sedang sampai lebat juga mempengaruhi terjadinya bencana.

“Bencana adalah kejadian yang dapat terjadi di mana saja, kapan saja dan dapat membawa dampak bagi siapa saja yang bermukim atau beraktivitas di sekitar area bencana,” tandas Penjabat.

Kemudian, sudah di atur dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

Selanjutnya, telah diuraikan pengertian bencana sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan kehidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia yang dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

“Untuk itu, bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai lereng gunung harus tetap waspada sejak dini simulasi tanggap darurat bencana ini sangat penting,” pesannya.

“Jadi, pengetahuan tentang kebencanaan harus menjadi bagian yang tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Dikatakan, kesiapsiagaan itu sendiri, tidak semata hanya pekerjaan rumah bagi instansi pemerintah yang berkewenangan guna menangani masalah kebencanaan.

Namun, kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dipandang sebagai tugas bersama baik pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media yang merupakan pihak-pihak terkait yang bisa turut serta dalam penanggulangan bencana.

Penjabat berharap dengan adanya simulasi mekanisme tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor dapat meningkatkan kerjasama berbagai pemangku kepentingan yaitu PMI, BPBD, Tagana dan masyarakat dalam penanganan bencana di Kota Ambon.

Bagikan ke teman kamu